“Hector ! Tunggu ! Berhenti !” Kirlia berseru sambil berlari menyusul Hector. “Diamlah kau Kirlia ! Berhenti mengejarku dan berhenti mencampuri urusanku !” bentak Hector sambil berjalan memunggungi Kirlia.
Kerenangan menyelimuti mereka berdua untuk sesaat. “Ya… Kalau dipikir-pikir, aku memang selalu mencampuri urusanmu. Memarahimu, menegur, mengingatkan, mengomentari hal-hal yang tidak ada hubungannya denganku. Sekarang makin jelas ditelingku ‘memangnya siapa aku ?’” kata Kirlia sambil menghela nafas.
“Kirlia… Bukan maks- aku hanya, maaf-. Ah !” Hector tidak dapat menemukan kata-kata yang dimaksud. “Jernihkanlah pikiranmu, Hector. Jangan membuat berpikir seperti Arthur. Bahwa kau selalu bertingkah seperti anak-anak.” Perlahan Kirlia berjalan menjauhinya sambil mengulas sebuah senyum.
Kembali ke padang rumput di kerajaan Suncreano, Bracillo meadow.
Tak lama setelah Hector pergi, dengan menyusulnya Kirlia, datanglah kedua jenderal Suncreano lainnya, Lancelot dan Gallahad.
“Wah, wah, seperti biasa, ‘Sir Arthur’ sangat tegas terhadap muridnya. Sayang kami melewatkan pertunjukan seru tadi. Bukankah begitu, Gallahad ? Hahaha…” kata Lanclelot sementara Gallahad hanya menyeringai sebagai balasan.
“Dan seperti biasa, tidak ada sopan santun dalam ucapanmu, Lancelot.” Balas Arthur. “Latihan pagi sudah selesai ! Setelah makan siang nanti harap kalian melanjutkan latihan bersama Lancelot dan Gallahad !” kata Arthur yang pergi ke istana setelah menepuk bahu Gallahad.
Matahari sudah di titik tertingginya, kegiatan di dalam dan di luar istana sudah meramai. Di salah satu ruang makan beberapa orang telah berkumpul. Cornelia, kepala pembantu di Soleil Castle, sedang menyiapkan makanan untuk penghuni utama. Di meja sudah ada Gabriella, Yemima, Kirlia, Lancelot, Ruffalo, dan Hades. “ Terima kasih, Cornelia.” Kata Yemima saat Cornelia membagi makanan di meja. “Hey apakah ada yang melihat Hector ?” lanjutnya.
“Mungkin di kamarnya ? Masih bersungut-sungut ?” kata Lancelot sambil menyeringai. “Jangan mengejeknya Lance, kau ini usil sekali” tegur Yemima sambil menonjak bahunya dengan main-main.
“Bukankah kau tadi bersamanya Kirlia ?” Tanya Gabriella sambil menyantap sup ayam dengan crouton. “Tadi aku meninggalkannya di danau. Dia hanya bisa membuat orang kesal. “ kata Kirlia ketus.
“Apakah benar begitu, Kirlia ?” sekarang kakaknya sendiri yang menggodanya, Ruffalo. Terdengar ketawa kecil diantara Ruffalo dan Lancelot. Mereka berdua memang usil. Hades ? Dia hanya tersenyum kecil. “Diam !” teriak Gabriella dan Kirlia bersamaan. Sementara Yemima sudah terbiasa dengan keusilan mereka berdua.
“Dia ada di istal.” Kata Hades. Dia memang jarang berbicara dan selalu mengucapkan hal yang seperlunya.
“Kapan kau melihatnya ?” Tanya Gabriella. “Saat sedang berjalan menuju kemari, Gabriella.” Jawab Hades. Tak lama, Kirlia berdiri, mengambil keranjang kecil dan kain pembungkus. Ia memasukan beberapa roti, keju, dan sosis, lalu pergi meninggalkan meja makan tanpa berkata apa-apa. Hal yang wajar untuk dilihat. Karena Kirlialah yang selalu membantu dan menemani Hector, memarahi dan mengingatkannya juga.
Langit sore menghampiri kerajaan Suncreano. Dengan suara burung dan bunyi gemerisik daun yang menemani langkah kaki kuda yang berjalan menuju kastil matahari.
“Yang mulia, Raja Phidias, beserta putranya, Pangeran Leonidas telah sampai di istana. Mereka menunggu di ruang pertemuan, yang mulia.” Kata Boticelli, pembantu pribadi raja. “ Baiklah, aku akan segera menyusul. Dan tolong sampaikan Cornelia bahwa ia harus membantu putri Gabriella bersiap-siap.” Perintah raja
On the surface, happiness and contentment abounded, but as many things the surface gave a treach-
‘tok tok tok’ terdengar bunyi ketuk di pintu. “Masuk.” Kata Gabriella sedikit kesal karena sedang asik membaca buku.
“Maaf mengganggu anda, putri, tetapi ayah anda meminta anda untuk bersiap-siap.” Kata Cornelia. ‘bersiap-siap ?’ pikir Gabriella ‘untuk apa ?’. Seakan menjawab pertanyaan sang putri Cornelia melanjutkan, “Raja Phidias beserta putranya pangeran Leonidas telah hadir untu-“ “Ah, benar. Terima kasih, Cornel. Aku akan segera menyusul.” Potong Gabriella, diikuti oleh anggukan kecil Cornelia.
Kamis, 03 September 2009
Rabu, 22 Juli 2009
1
“Hector, ayun pedangmu lebih keras ! Hades, jangan takut untuk menghunuskan pedangmu ! Yemima, perkuat genggamanmu ! Mana kuda-kuda yang mau dipakai untuk berlatuh ? Bagian memanah, ayo latihan ! Gabriella aku selalu mengawasimu, kerja yang bagus !” Arthur, pimpinan jendral, memberi masukan kepada semua muridnya. “Hector, ayunkan pedangmu layaknya laki-laki ! Contohlah kesigapan Hades dan ketangkasan Yemima ! Bagaimana nanti kalau kau menjadi raja Suncreano ? Bisa-bisa hancur !” teriak Arthur berturut-turut menegur Hector, putra mahkota kerajaan Suncreano ini. “Hah, ayah ini, santailah sedikit…” Ruffalo, putra Arthur, menghampiri ayahnya untuk memberikan minum. “Ah ya, terima kasih.” sahut Arthur, “Hei ! Mengapa kau santai-santai seperti ini, nak ! Seharusnya kan kau berlatih ! Bagaimana nanti saat kau menggantikanku ?” emosi Arthur yang labil kembali beraksi. “ Aku sedang menemani Kirlia berlatih sihir ayah, seperti yang kau minta.” Ruffalo membela diri. “Baiklah, tapi jangan lupa untuk latihan dasar setelah itu dan berlatih pedang sambil berkuda. Jaga adikmu itu jangan samapi ia belajar sihir terlalu jauh.” lanjut Arthur. Padahal menjadi pengganti Merlin, penyihir kerajaan Suncreano, merupakan cita-cita Kirlia. Bahkan diam-diam dia kerap kali meminjam buku Merlin tanpa sepengetahuan siapapun dan berlatih di Bracillo meadow. Hanya Ruffalo yang tahu, dan sayang sekali Kirlia tidak ingin ia memberitahukan siapapun, termasuk ayah mereka sendiri. Sebenarnya tak heran Kirlia menaruh minat besar terhadap bidang itu, karena neneknya sendiri adalah seorang penyihir, jadi darah penyihir mengalir di tubuhnya.
Saat Arthur kembali fokus ke pelatihan pedang, ia menemukan Hector bermain kasar dan terlalu membuang tenaga. “Hector, jangan buang-buang tenagamu ! Tidak ada gunanya serangan-serangan yang kau lakukan itu. Yemima saja lebih bisa mengontrol kekuatannya darimu !” Mendengar Arthur meneriakinya lagi, Hector dengan rasa marah bercampur malu meneriaki Arthur. “Hah ! Cukup Arthur ! Sudah lelah aku mendengar teriakanmu sepanjang hari ini ! Mentang-mentang jendral ! Terserah aku mau bermain pedang seperti apa !” Hector memang keras kepala. Sudah tak terhitung dia menentang dan memarahi kembali semua guru pedang di kerajaan ini. Hanya Arthurlah yang tidak segan-segan tetap memarahinya. “Hm. Baiklah. Terserah kau kalau sudah merasa hebat.” Kata Arthur dengan penuh ketenangan dan tanpa ekspresi.
“Kenapa ? Kau menantangku ? Mau beradu pedang denganku ?” tantang Hector dengan penuh kepercayaan diri. Suasana di Bracillo meadowpun meramai. Wanita-wanita yang sedang menyiapkan makanan dan prajurit-prajurit yang berlatih, berhenti sejenak untuk manyaksikan tontonan ini. Memang, tak jarang duel seperti ini terjadi. Tapi jarang-jarang ada yang berani menantang langsung jendral Suncreano.
“Haaah. Anak itu tak berubah. Memang sih, sudah cukup lama dia tidak menantang Arthur lagi. Kukira luka-luka yang dia dapat cukup untuk membuatnya kapok.” Kata Yemima saat Gabriella berjalan mendekatinya. “Nanti juga akan ada saatnya dimana dia tidak sebodoh ini lagi, Yemima. Jadi nikmati saja dulu.” Kata Gabriella sambil tersenyum geli.
Sementara di tengah Bracillo meadow keadaan makin memanas. Karena sepertinya Arthur menerima tantangan Hector.
“Baiklah. Serang aku Hector.”
“Bersiaplah, ‘Jendral’ Arthur.” Kata Hector tersenyum.
Dengan kepercayaan diri yang sangat besar, Hector melaju ke arah Arthur sambil mengayunkan pedangnya. Arthur sama sekali tidak menyiapkan kuda-kuda khusus dalam menyambut Hector. Hector hendak menghunuskan pedangnya ke perut kanan Arthur saat ia menangkisnya dengan gagang pedang saja. Arthur menonjokan gagang pedang itu kepada pipi kanan Hector hingga ia jatuh. Tetapi Hector dengan cepat bangkit dan bersiap menerjang Arthur sambil mengayunkan pedang yang ia genggam di tangan kanannya. Saat mendekati Arthur ia mengangkat lengannya bersiap menebas dada Arthur. Tetapi serangan itu ditahan oleh Arthur. Ia menahannya dan kemudian ia memutar pedangnya sehingga pedang Hector jatuh dan menyayat bahu kiri Hector. Terjatuh bersama dengan pedangnya, kemarahan Hector membangkitkannya. Ia memungut pedangnya dan berjalan menjauh dari Bracillo meadow.
Saat Arthur kembali fokus ke pelatihan pedang, ia menemukan Hector bermain kasar dan terlalu membuang tenaga. “Hector, jangan buang-buang tenagamu ! Tidak ada gunanya serangan-serangan yang kau lakukan itu. Yemima saja lebih bisa mengontrol kekuatannya darimu !” Mendengar Arthur meneriakinya lagi, Hector dengan rasa marah bercampur malu meneriaki Arthur. “Hah ! Cukup Arthur ! Sudah lelah aku mendengar teriakanmu sepanjang hari ini ! Mentang-mentang jendral ! Terserah aku mau bermain pedang seperti apa !” Hector memang keras kepala. Sudah tak terhitung dia menentang dan memarahi kembali semua guru pedang di kerajaan ini. Hanya Arthurlah yang tidak segan-segan tetap memarahinya. “Hm. Baiklah. Terserah kau kalau sudah merasa hebat.” Kata Arthur dengan penuh ketenangan dan tanpa ekspresi.
“Kenapa ? Kau menantangku ? Mau beradu pedang denganku ?” tantang Hector dengan penuh kepercayaan diri. Suasana di Bracillo meadowpun meramai. Wanita-wanita yang sedang menyiapkan makanan dan prajurit-prajurit yang berlatih, berhenti sejenak untuk manyaksikan tontonan ini. Memang, tak jarang duel seperti ini terjadi. Tapi jarang-jarang ada yang berani menantang langsung jendral Suncreano.
“Haaah. Anak itu tak berubah. Memang sih, sudah cukup lama dia tidak menantang Arthur lagi. Kukira luka-luka yang dia dapat cukup untuk membuatnya kapok.” Kata Yemima saat Gabriella berjalan mendekatinya. “Nanti juga akan ada saatnya dimana dia tidak sebodoh ini lagi, Yemima. Jadi nikmati saja dulu.” Kata Gabriella sambil tersenyum geli.
Sementara di tengah Bracillo meadow keadaan makin memanas. Karena sepertinya Arthur menerima tantangan Hector.
“Baiklah. Serang aku Hector.”
“Bersiaplah, ‘Jendral’ Arthur.” Kata Hector tersenyum.
Dengan kepercayaan diri yang sangat besar, Hector melaju ke arah Arthur sambil mengayunkan pedangnya. Arthur sama sekali tidak menyiapkan kuda-kuda khusus dalam menyambut Hector. Hector hendak menghunuskan pedangnya ke perut kanan Arthur saat ia menangkisnya dengan gagang pedang saja. Arthur menonjokan gagang pedang itu kepada pipi kanan Hector hingga ia jatuh. Tetapi Hector dengan cepat bangkit dan bersiap menerjang Arthur sambil mengayunkan pedang yang ia genggam di tangan kanannya. Saat mendekati Arthur ia mengangkat lengannya bersiap menebas dada Arthur. Tetapi serangan itu ditahan oleh Arthur. Ia menahannya dan kemudian ia memutar pedangnya sehingga pedang Hector jatuh dan menyayat bahu kiri Hector. Terjatuh bersama dengan pedangnya, kemarahan Hector membangkitkannya. Ia memungut pedangnya dan berjalan menjauh dari Bracillo meadow.
Rabu, 20 Mei 2009
introduction
Hai, semua ! Buat sekedar perkenalan dan informasi, blog ini nantinya akan menjadi cerita yang bersambung. Doakan terus agar tetap berjalan, ya ! Ide ceritanya sendiri udah ada sejak tahun lalu. Ngerasa bosen belajar dikelas, saya, Frian, bersama kedua teman saya Vania dan Vani, membuat sebuah cerita dengan latar belakang jaman kerajaan. Maaf aja ya kalo nanti agak ga sesuai dan sebagainya. We're just beginners, so wish us luck !
Untuk sekedar pemberitahuan, ceritanya, in the land of Cavoria (nama modernnya benua kali ya) ada lima kerajaan (bisa diibaratkan negara). Yaitu, Suncreano, Fraternize, Ledgetair, Ruiz, dan Aternicks. Tentu saja seperti nama blognya, ceritanya berpusat di kerajaan Suncreano. Kerajaan yang paling berpengaruh di tanah Cavoria.
Info lainnya lagi, kerajaan ini dipimpin oleh raja Eduard X yang mempunyai istri bernama Camilie, dan mempunyai tiga anak bernama : Gabriella, Yemima, dan Hector. Kerajaan ini mempunyai tiga orang jendral yang sangat dihormati yaitu Arthur (paling senior dan berpengalaman), Lancelot (masih muda tapi karena berbakat sudah jadi jenderal), dan Gallahad ( tentu saja sama berpengalamannya dengan Arthur). Lalu Arthur memiliki istri yang bernama Lavinia, dan dua orang anak bernama Ruffalo dan Kirlia. Panglima kerajaan ini adalah saudara kembar yang bernama Hercules dan Archiles. Dan ada juga penyihir kerajaan bernama Merlin.
Semoga kalian menikmati cerita kami. Sekali lagi mohon maaf jika pengaturan ketikan dan tanda baca suka salah. Enjoy !
Untuk sekedar pemberitahuan, ceritanya, in the land of Cavoria (nama modernnya benua kali ya) ada lima kerajaan (bisa diibaratkan negara). Yaitu, Suncreano, Fraternize, Ledgetair, Ruiz, dan Aternicks. Tentu saja seperti nama blognya, ceritanya berpusat di kerajaan Suncreano. Kerajaan yang paling berpengaruh di tanah Cavoria.
Info lainnya lagi, kerajaan ini dipimpin oleh raja Eduard X yang mempunyai istri bernama Camilie, dan mempunyai tiga anak bernama : Gabriella, Yemima, dan Hector. Kerajaan ini mempunyai tiga orang jendral yang sangat dihormati yaitu Arthur (paling senior dan berpengalaman), Lancelot (masih muda tapi karena berbakat sudah jadi jenderal), dan Gallahad ( tentu saja sama berpengalamannya dengan Arthur). Lalu Arthur memiliki istri yang bernama Lavinia, dan dua orang anak bernama Ruffalo dan Kirlia. Panglima kerajaan ini adalah saudara kembar yang bernama Hercules dan Archiles. Dan ada juga penyihir kerajaan bernama Merlin.
Semoga kalian menikmati cerita kami. Sekali lagi mohon maaf jika pengaturan ketikan dan tanda baca suka salah. Enjoy !
Langganan:
Postingan (Atom)

